Sudah beberapa hari terakhir hampir semua berita mainstream memberitakan tentang karhutla. Kebakaran ini tidak hanya merugikan manusia, tapi ekosistem di sekelilingnya, termasuk hewan dan tumbuhan. Mari kita bahas secara komprensif.
Sejarah Karhutla
Karhutla atau kebakaran hutan dan lahan adalah tragedi yang hampir setiap tahun selalu ada di Indonesia. Faktanya kejadian ini sudah ada sejak dulu, sewaktu masih di jajah oleh Hindia Belanda.
Tepatnya pada awal abad ke 20 atau 1900an wilayah yang umumnya terjadi kebakaran adalah wilayah Kalimantan Timur dan Sumatera. Kejadian di sebabkan oleh El Nino. Bahkan pemerintah Hindia Belanda memberlakukan regulasi bernama Ordonansi Hutan untuk Jawa dan Madura (1927).
Kemudian kebakaran yang masif terjadi pada tahun 1960–1990, sewaktu masa Order Baru. Di sini deforestasi secara masif sangat umum dilakukan karena tuntutan industri pada saat itu. Kemudian muncul karhutla karena ulah manusia atau di sengaja karena tuntutan kelapa sawit dan bubur kertas. Mungkin karena pada waktu itu belum ada sosmed jadi belum ada yang mengetahui.
Kejadian paling parah itu terjadi pada tahun 1997 – 1998. Menurut sumber yang saya dapat akibatnya karena kegagalan tata kelola lahan gambut. Kemudian di beberapa sumber, kejadian itu akibat dari serangan El Nino yang sangat masif.
Kebakaran terus berlanjut
Tidak hanya berhenti di tahun 1998. Kejadian serupa terjadi lagi di tahun 2000 hingga 2019. Kalau dulu karhutla adalah bencana yang datang karena kemarau berkepanjangan dan adanya El Nino, sekarang beda. Karhutla sekarang adalah bencana tahunan setiap kemarau tiba yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.
Berubah jadi perkebunan
Dalam kebanyakan kasus, lahan karhutla yang terbakar sudah dipastikan bakal menjadi area perkebunan. Ini adalah fakta yang kemudian saya cross check di beberapa platform. Walaupun tidak 100% tapi sebagian besar adalah benar.
Kurang lebih 54% lahan yang telah terbakar kemudian menjadi area perkebunan kelapa sawit dan akasia. Kemudian 41% area semak belukar bakal terbakar di tahun depannya. Lalu laporan menunjukkan bahwa hanya 3% saja lahan yang difungsikan kembali menjadi hutan alami. Sungguh menyedihkan. Data ini saya ambil dari organisasi analisis lingkungan Pantau Gambut (periode 2015–2025).
Modus pembakaran untuk efisiensi
Rumor ini sudah sering bergulir tapi mungkin sebagian orang masih bingung bagaimana cara kerjanya. Biasanya oknum perorangan atau oknum korporasi akan menggunakan metode tebang bakar. Karena metode ini paling cepat dan murah untuk ditanam kelapa sawit.
Pada tanah lahan gambut, parit-parit sengaja dibuat untuk mengeringkan tanah agar sawit bisa tumbuh. Masalahnya ada di sini. Gambut yang mengering akan menjadi “batu bara” di permukaan tanah. Ketika musim kemarau sangat rentan terkena kebakaran.
Ironis
Sayangnya pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Meski peraturan sudah dibuat, operasi karhutla ini tidak dijalankan oleh segelintir oknum. Ya, kita membicarakan banyak orang, kelompok, organisasi, mungkin juga partai politik? yang ikut andil dalam suksesnya pembukaan lahan untuk kelapa sawit.
Walaupun pemerintah sudah berusaha mengeluarkan larangan pembakaran hutan dan lahan demi membuka lahan kelapa sawit, tapi hasilnya tidak signifikan berhasil. Agak ironis, karena stok dalam negeri butuh hasil kelapa sawit, di lain sisi karhutla sampai kebablasan juga merugikan warga sekitar dan menjatuhkan korban.
Negara Tetangga
Sepertinya negara tetangga sudah benar-benar tidak tahan terhadap kelakuan Indonesia yang satu ini.
Singapura sendiri sudah menindak beberapa perusahaan yang menjadi penyebab ispa di kawasan negara mereka. Menurut CNBC ada 7 perusahaan yang bakal di denda oleh Singapura.
Bahkan Singapura yang faktanya adalah negara kecil mungil, malah lebih siap dan sigap ketimbang Indonesia. Mereka menawarkan bantuan tapi hingga saat ini belum ada informasi yang jelas, apakah presiden Prabowo menerima bantuan tersebut atau menolak.
Jadi gimana sudah aga gambaran? Semoga bermanfaat 🙂
Leave a Reply